Jember (beritajatim.id) – Sebanyak 83 peserta yang terdiri atas pimpinan bidang kemahasiswaan, koordinator program studi, pembina organisasi kemahasiswaan (Ormawa), hingga tenaga kependidikan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember mengikuti kegiatan Peningkatan Kapasitas Pembinaan Ormawa bertema Mahasiswa dan Masa Depan Indonesia. Kegiatan yang digelar di Hotel Royal Jember, Kamis (25/6/2026), menjadi bagian dari langkah strategis kampus dalam memperkuat sistem pembinaan mahasiswa agar mampu menjawab tantangan Indonesia Emas 2045.
Forum tersebut menghadirkan Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., sebagai narasumber utama. Diskusi berfokus pada peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif di tengah percepatan transformasi digital, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), hilirisasi industri, dan perubahan sosial yang berlangsung semakin cepat.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UIN KHAS Jember, Dr. H. Khoirul Faizin, M.Ag., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang koordinasi, tetapi juga momentum menyamakan arah kebijakan seluruh unsur yang terlibat dalam pembinaan mahasiswa.
Menurut Khoirul Faizin, sejak dirinya menjabat pada 2023, forum formal yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan kemahasiswaan baru pertama kali diselenggarakan. Ia menilai kesamaan persepsi diperlukan agar proses pembinaan mahasiswa berjalan lebih terarah, mulai dari pengembangan potensi, peningkatan kompetensi, hingga persiapan menghadapi dunia kerja dan tantangan masa depan.
Ia menambahkan, keberhasilan pembinaan mahasiswa hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh elemen kampus. Peran wakil dekan bidang kemahasiswaan, program studi, pembina Ormawa, hingga unit pendukung harus saling terintegrasi sehingga mahasiswa memperoleh ruang pengembangan diri yang berkelanjutan.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pengalokasian anggaran yang lebih terstruktur untuk mendukung pembinaan organisasi kemahasiswaan pada tahun anggaran berjalan. Kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem kemahasiswaan melalui program-program pembinaan yang berlangsung secara berkala dan terdokumentasi dengan baik.
Dalam pemaparannya, Prof. Ahmad Zainul Hamdi menekankan bahwa perguruan tinggi perlu melakukan penyesuaian arah pengembangan mahasiswa agar sejalan dengan kebutuhan pembangunan nasional. Menurutnya, Indonesia tengah memasuki fase penting menuju Indonesia Emas 2045 yang menuntut hadirnya sumber daya manusia unggul, inovatif, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan.
Ia menilai Indonesia memiliki jumlah perguruan tinggi dan mahasiswa yang besar. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan kualitas lulusan mampu memenuhi kebutuhan pembangunan melalui transformasi pendidikan, peningkatan standar mutu, dan keterkaitan yang lebih kuat dengan kebutuhan dunia kerja.
Ahmad Zainul Hamdi juga menguraikan sejumlah persoalan yang masih dihadapi pendidikan tinggi di Indonesia, antara lain tingginya angka pengangguran lulusan pendidikan menengah dan perguruan tinggi, rendahnya daya saing, serta belum optimalnya hubungan antara kampus dan industri. Karena itu, pembinaan mahasiswa dinilai tidak cukup hanya berorientasi pada aktivitas organisasi, tetapi juga harus memperkuat kompetensi profesional, kepemimpinan, inovasi, literasi digital, serta kesiapan memasuki pasar kerja.
Menurutnya, organisasi kemahasiswaan tetap memiliki posisi strategis sebagai laboratorium kepemimpinan yang membentuk karakter, kemampuan berkolaborasi, dan keterampilan sosial mahasiswa. Meski demikian, seluruh aktivitas organisasi perlu dirancang agar memberikan kontribusi nyata terhadap kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional.
Melalui kegiatan ini, UIN KHAS Jember menegaskan komitmennya membangun tata kelola pembinaan mahasiswa yang lebih adaptif, terarah, dan berkelanjutan. Sinergi antara pimpinan, pembina, dan pengelola kemahasiswaan diharapkan mampu melahirkan mahasiswa yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga memiliki daya saing, kepemimpinan, serta kapasitas menjadi agen perubahan dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Prof. Ahmad Zainul Hamdi menegaskan bahwa setiap proses pembinaan di perguruan tinggi harus menghasilkan dampak nyata melalui lahirnya generasi muda yang unggul, relevan dengan perkembangan zaman, serta siap menghadapi tantangan masa depan. (hdl)

